Fenomena PSK – Bahan Makalah


PSK menjadi fenomena kontroversial sosial yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Pergeseran Struktur sosial dan masuknya budaya asing yang tidak terkendali  disebut pemicu utama menjamurnya wanita-wanita penjaja kenikmatan di dunia itu. Dampak arus modernisasi yang telah mengglobal dan lemahnya benteng keimanan kita mengakibatkan masuknya budaya asing tanpa penyeleksian dengan ketat, kita telah mengetahui bahwa sebagian besar bangsa barat adalah bangsa sekuler, seluruh kebudayaan yang mereka hasilkan jauh dari norma-norma agama. Hal ini tentunya bertentangan dengan budaya Indonesia yang menjujung tinggi nilai agama dan pancasila. Saat ini pergaulan Bebas sudah menjadi salah satu faktor terjadinya prilaku Seks menyimpang mau pun Seks bebas dengan PSK. Banyak peluang yang menjanjikan bagi para pendatang untuk bekerja di Jakarta, dari yang positive sampai yang hal negative. Beragam jenis pekerjaan banyak dijumpai di ibu kota Jakarta ini. Salah satu profesi yang negatif adalah praktek prostitusi yang sedang marak saat ini, yaitu profesi sebagai pekerja seks komersial (PSK) dan WARIA.

Pelacuran atau prostitusi adalah penjualan jasa seksual, seperti seks oral atau hubungan seks, untuk mencari uang. Seseorang yang menjual jasa seksual disebut pelacur, yang kini sering disebut dengan istilah pekerja seks komersial (PSK). Dalam pengertian yang lebih luas, seseorang yang menjual jasanya untuk hal yang dianggap tak berharga juga disebut melacurkan dirinya sendiri.

            Di Indonesia pelaku pelacuran sering disebut sebagai PSK. Ini menunjukkan bahwa prilaku perempuan psk itu sangat begitu buruk,  hina dan menjadi musuh masyarakat, mereka terkadang kerap melawan bila tertangkap aparat penegak ketertiban, Mereka juga dianggap melecehkan kesucian agama dan mereka juga diseret ke pengadilan karena melanggar hukum.

         Pelacur adalah profesi yang menjual jasa untuk memuaskan kebutuhan seksual pelanggan. Biasanya pelayanan ini dalam bentuk menyewakan tubuhnya. Dengan kemolekan tubuh yang dimiliki seorang wanita tersebut merupakan suatu modal utama untuk menjajakan tubuhnya kepada lelaki hidung belang yang haus akan sexualitas.

         Sedangkan munculnya fenomena waria merupakan penyakit sosial transsexual dianggap sebagai perilaku yang menyimpang oleh masyarakat pada umumnya, Pelaku transsexual di Indonesia disebut dengan istilah waria (wanita-pria), wadam (wanita-adam), banci atau bencong. Namun, kehadiran mereka sebagai kelompk ketiga dalam Gender manusia tentunya menjadi “tidak diakui”.

Norma kebudayaan hanya mengakui dua jenis kelamin secara obyektif yaitu pria dan wanita. Jenis kelamin itu sendiri mengacu kepada keadaan fisik alat reproduksi manusia. Pandangan psikologi mengatakan bahwa transeksual merupakan salah satu bentuk penyimpangan seksual baik dalam hasrat untuk mendapatkan kepuasan seksual maupun dalam kemampuan untuk mencapai kepuasaan seksual.

Nafsu seks timbul dalam diri manusia mulai pada usia puber (balig). Oleh sebab itu, seseorang sejak usia kanak-kanak harus diberi pendidikan seks agar ia tidak merasa bingung dan tersesat ketika menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirinya, baik perubahan fisik maupun kejiwaan. Tentu saja, pendidikan seks yang diberikan harus sesuai dengan tingkatan umur dan sosialisasi si anak, dan terus ditingkatkan seiring berjalannya waktu menuju kedewasaannya. Kontrol selalu perilaku anak sejak dini dan jika terlihat perilaku menyimpang maka segeralah konsultasikan dengan para ahli.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s